Selasa, 22 September 2015

MY HISTORY ( Margi Wijaya )

Mungkin sore itu bukan pagi atau malam, saya dilahirkan dari perut ibuku dengan penuh perjuangan dan harapan. Saya dinanti banyaknya orang sekeliling karena jika saya lahir itu berarti Cicit, Cucu, dan anak PERTAMA. Saya terlahir bersyukur karena masih memiliki utuh antara Bapak dan Ibu. Dimana mereka hanya dari golongan orang pribumi, yang sederhana dan penuh dengan keharmonisan. Saya terlahir di sore hari dimana saat itu adalah hari Sabtu Pahing, 25 Maret 1989, yang lalu mereka memberi nama MARGI WIJAYA yang memiliki arti sebagai mana suku jawa mengharap nama memiliki arti dan berfungsi.
Margi, sebuah kata dari suku jawa yang berarti Jalan dan Wijaya yang berarti menuju Jaya. Yang dimaksud Margi Wijaya adalah Jalan yang dapat menuju pada Kejayaan. bukan sukses maupun tertindas. Tapi jaya yang dimaksud sederhana tapi tentram.
Waktu umur saya 5 bulan saya dibawa ke jakarta tepatnya jakarta timur cipinang. Untuk mendekatkan pada Bapak saya dan kerjaannya, mungkin karena Ibu saya yang selalu ingin dekat dengan suaminya. Saya kecil dijakarta dilingkungan orang yang notabene sama Jawanya. Saya sekolah tanpa jalur Taman Kanak-Kanak, melainkan langsung ke jenjang Sekolah Dasar. SDN 04 Pagi Jatinegara itu saksi mata kakiku melangkah mengenyam pendidikan. Umurku baru saja 7 tahun tapi masalah telah datang. Perkelahian antara teman sekelas yang saat itu masih teringat, karena saling ejek. Dua teman sekelas menjadi korban betapa bandel dan nakalnya diriku ini. Hanya sampai kelas 2 SD sampai Catur Wulan pertama saya di Jakarta dan masih di sekolah disana. Saat adik saya Silih Wibowo akan mendaftarkan sekolah Taman Kanak-kanak. Ibu saya kaget karena adanya tawuran SMP persis didepan matanya, dan didorong biaya sekolah TK bukan hal sepele. Sampai akhirnya Ibu saya dan adik saya hijrah kembali ke kampung halaman.